Tahukah Anda, organ apa di tubuh kita yang paling besar? Kulit! Ternyata, luas kulit manusia berkisar pada 1,86 – 2,04 meter persegi. Jadi, sangat masuk akal jika banyak orang yang sangat peduli dengan kesehatan kulitnya. Alasan lainnya, bisa jadi sangat emosional. Terutama bagi wanita, seringkali kesempurnaan fisik, hanya dinilai dari seberapa sehat dan ‘kinclong’ kulitnya. Tren faktual ini mencuat dalam paparan Yuswohady dalam konsep Customer 3000 yang sangat inspiratif itu, “Get Kinclong … Get Profit”.
Sudut pandang, pikiran, opini, perasaan, motivasi; dapat diarahkan dengan membaca, menulis, pelatihan, dan konseling.
Firaun Life Style
Ingatan saya pada nasihat seorang idola perubahan tentang kuburan kembali menjadi terang. Dalam salah satu acara, beliau mengatakan bahwa hanya Firaun yang merencanakan dan membangun kuburannya sendiri. Hanya Firaun yang memiliki rencana penguburannya sangat detil, dimulai dari pilihan wilayah, desain bangunan, citra sosial yang ingin dibangun, serta apa saja yang ingin dibawa mati bersamanya.
Di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini, salah satu jenis Firaun life style ini, mudah ditemukan pada komunitas etnis Tionghoa yang kaya. Nama-nama pemakaman mewah di atas bukit telah penuh sesak ditempati atau dikavling mereka. Saat saya menghadiri pemakaman ibu dari pemilik perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia tahun 2004, sekretaris pribadinya berbisik bahwa bosnya sudah memiliki kavling di samping pemilik grup BCA. Bahkan desain bangunannya pun telah dipilih dan uang mukanya sudah dibayarkan 4 tahun lalu kepada pengembang pemukiman mayat tersebut.
Pergaulan yang terbatas hanya di kalangan menengah ke bawah mengungkungi wawasan saya tentang tren baru di kalangan orang kaya terkait topik kuburan. Rupanya, sekarang ada tren baru di kalangan orang kaya di Indonesia untuk dimakamkan di tempat-tempat yang dicitrakan mewah, berkelas, dan eksklusif. Bodohnya, saya pikir hanya komunitas etnis dan kepercayaan tertentu saja yang dilanda demam unik ini. Namun membaca berita di beberapa media akhir-akhir ini, ternyata tren baru terkait rumah mayat ini telah pula menjangkiti artis, pejabat, dan kaum kaya orang Islam. Bukti teranyarnya adalah pemakaman dua pejabat tinggi dan Direktur Indocement di San Diego Hils.
San Diego Hills memang fenomena baru yang merespons life style purba ala budaya tiran raja-raja Mesir otoriter. Berikut adalah klaim dari mereka:
“San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes merupakan kawasan pemakaman pertama di dunia yang menawarkan kelengkapan fasilitas dan layanan berkualitas : taman pemakaman eksklusif, danau seluas 8 Ha., kapel, musholla, restoran Italia, jogging track, kolam renang, florist & gift shop, padang rumput asri bagi outdoor activity, hingga gedung serba guna berkapasitas 250 orang. Kini, melangsungkan pernikahan dan berwisata di kawasan pemakaman bukan lagi sesuatu hal yang tidak lazim dilakukan.”
Harta kekayaan yang berlimpah merupakan pemungkin paling efektif bagi seseorang untuk larut dalam penikmatan kesenangan fisik (hedonis). Celakanya, wabah ini sangat cepat menjalar di kalangan mereka sehingga dengan mudah teradopsi menjadi gaya hidup (life style). Dan kerentanan (emosional) orang kaya dan orang yang merasa kaya inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh pengusaha.
Melalui proses iklan (pencitraan masif dan terstruktur), pengusaha grup Lippo berhasil membuat kesan baru tentang memuliakan kerabat yang meninggal dan angan-angan menjadi terhormat setelah mati. Dibuatlah pekuburan yang menyenangkan, indah, berkelas, sehingga seolah-olah dengan memiliki alamat terakhir di sini, kerabat dan yang dikuburkan akan memiliki label nama baik baru, mulia.
Iklan yang mengubah persepsi kaum berlebih materi ini telah mengubah pula sistem kepercayaan dan tradisi memahami keberadaan kuburan sebagai simbol fisik dari sebaik-baiknya zikir (mengingat-Nya). Bagi kaum berada tipe ini, kuburan tidak lagi mengingatkan pada ancaman kehidupan yang lalai. Bagi mereka, kuburan itu tidak lagi berupa simbol ketakutan pada kemungkinan amal baik lebih kecil jumlahnya dibandingkan amal baik yang tulus. Pada mereka, telah terbangun persepsi baru bahwa kuburan adalah tempat yang indah dan menyenangkan, untuk bermain, berekreasi, berpesta, rapat, dan bersenda gurau.
Untuk sekadar menentang tren dan menasihati diri sendiri, izinkan saya mengutip pesan usang yang sudah berusia lebih dari 1400 tahun berikut.
Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu menurut riwayat Muslim: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang untuk menembok kuburan, duduk di atasnya, dan membangun di atasnya.
Rasulullah Saw melarang mengapur kuburan, duduk-duduk di atas kuburan dan membangun kuburan tapi berupa unggukan tanah saja setinggi satu jengkal. (HR. Muslim)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Aku menginginkan kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur (dicat), karena perbuatan seperti itu menyerupai hiasan atau kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat salah satu di antara dua hal tersebut. Aku tidak pernah melihat kuburan Muhajirin dan Anshar dicat. Perawi berkata dari Thawus: ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dibangun atau dicat’.”
from the note of @syarifniskala
Ayam versus Sapi
Kalau ayam bersabung melawan sapi, kalah mana ya …?
Menurut idiom yang populer dan iklan yang gencar dilakukan salah satu produsen makanan di Indonesia, yang menang adalah sapi. Lho? Kok, bisa. Ya, faktanya memang begitu. Pernah mendengar idiom telur mata sapi! Adakah bagian dari sapi, sedikit saja, yang menjadi bagian dari telur mata sapi? Tidak ada bukan. Tetapi kenapa, ayam yang berperan tetapi sapi yang terkenal namanya ya?
Nah, idiom ini paling tidak telah menginspirasi PT. SO GOOD FOOD. Saat mereka mengeluarkan varian produk ‘sosis sapi’, ternyata komposisi terbesarnya bukan daging (atau bagian dari tubuh) sapi, melainkan daging (semoga) ayam. Nah, pertarungan ayam melawan sapi ini, ada baiknya kita gunakan untuk belajar memahami komposisi suatu produk makanan hasil olahan pabrik dari kemasannya.
Dari label sekaligus pembungkus (packaging) SO NICE SOSIS siap makan Rasa Sapi yang diproduksi oleh PT. SO GOOD MANUFACTURING (170112 01:44 L2), kita mendapatkan paparan KOMPOSISI: Daging Ayam, Tepung Pati, Minyak Nabati, Serat, Protein Nabati, Garam, Bumbu (mengandung Mononatrium Glutamat, Antioksidan Asam Askorbat), Ekstrak Daging Sapi, Karagenan, Antioksidan Eritorbat, Pewarna makanan Karmin CI 75470.
Menurut peraturan dari Badan POM RI, cara penulisan urutan komposisi berdasarkan persentase bobot, dari yang terbesar menuju yang terkecil. Ini artinya, jika produsen taat melaksanakan peraturan tersebut, pada komposisi produk SO NICE SOSIS siap makan Rasa Sapi, jumlah daging ayam yang digunakan jauh lebih besar dibandingkan ekstrak daging sapi (hmm, ekstrak itu bisa berupa air rebusan (air kaldu) atau bagian tidak menguap dari air kaldu, jelas sekali bukan daging sapi).
Dugaan awam saya, jika ekstrak daging sapi merupakan komposisi ke-8, maka persentase berdasarkan bobotnya tidak akan mencapai 2% saja. Ini bukan ngawur, tapi rasionalitas akal sehat. Dia ditempatkan setelah bumbu. Anda bisa bayangkan, betapa sangat gurihnya makanan Anda jika bumbu MSG ditambahkan lebih dari 2.1%. Jika dibandingkan kedekatan posisi dia dengan antioksidan eritorbat (ke-10), yang biasanya maksimum pengunaannya hanya 0.1% (1000 ppm), kira-kira berapa persen ekstrak daging sapi pada produk yang kita bahas tadi menurut dugaan Anda?
Well, produsen memang cerdik. Walau dikomunikasikan dengan iklan agar terbangun persepsi sosis sapi, pada kemasannya hanya dituliskan kata Rasa Sapi, bukan sosis sapi. Nah, tulisan ini dibuat agar kita memahami fakta yang sebenarnya. Saya berharap, setelah membaca tulisan ini, persepsi Anda bukan lagi mengonsumsi sosis sapi melainkan SOSIS AYAM rasa sapi (tuh kan, mirip idiom telur mata sapi lagi deh). Bangunlah kesadaran bahwa saat makan produk tersebut kita sebenarnya sedang makan sosis ayam, bukan sosis sapi. Persis seperti kita makan telur mata sapi yang dalam kesadaran rasa kita tetap berorientasi pada telur ayam.
Saya berharap (pake bangeet ah, biar seru) agar produsen lebih bijak menyikapi konsumen. Bukankah kata Marketeers (edisi Februari 2012) bahwa konsumen itu:
Ingredients: 100% Human, non-recycleable, Bio-degradable
Caution! Contents may vary with mood
Handle with Care cause Fragile
Do Not Drop
Keep Happy
Kalau boleh usul nih. Saya dan keluarga, sebagai konsumen setia PT. SO GOOD FOOD, mengusulkan agar produk tersebut dikomunikasikan sebagai sosis ayam saja. Janganlah berusaha dipersepsikan sebagai sosis sapi (bukti: ada ilustrasi sapi bukan ilustrasi ayam pada kemasan luarnya). Ini kan membingungkan. Kasihan anak saya (usia 8 tahun) yang berusaha berpikir jernih setelah membaca buku Seri Komik Antikorupsi dari KPK berjudul Kisah Kasus di Sekolah. Dia bingung menyikapi sosis rasa sapi tapi terbuat dari daging ayam.
Mungkin dalam benaknya, apa ada di alam nyata ini, seekor ayam yang tubuhnya daging sapi. Berhentilah membingungkan masyarakat konsumen. Mengaburkan fakta dengan ilustrasi yang tidak sesuai, mirip-mirip perilaku tidak terpuji para politikus-koruptor.
from the bottom of @syarifniskala heart





