212.000 Kelapangan untuk 1 Kesempitan

0
Filed under INSPIRASI
Tagged as , , , , , , , , , ,

inti atomApa yang Anda bayangkan jika sedang memandang segelas air penuh? Mungkin Anda berpikir bahwa ruang dalam gelas tersebut dipenuhi oleh molekul air yang kita kenal sebagai H2O. Anda tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dalam gelas berisi air itu terdapat ruang kosong. Padahal faktanya, dengan mengabaikan jarak antara atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen, ruang kosong dalam segelas air tersebut paling tidak menempati 99.999528% ruangan dalam gelas. Bagaimana mungkin? Mari kita hitung dengan kasar….

Ukuran sebuah atom ditentukan dengan mengukur jarak antara inti atom (nukleus) dengan elektron yang mengitarinya. Diketahui ukuran inti atom hidrogen berdiameter sekitar 1 femtometer (1 femtometer = 10-15 meter). Jika ukuran atom hidrogen memiliki diameter 106.000 femtometer maka ruang kosong pada sebuah atom hidrogen adalah sebesar 106.000 kali benda padatnya. Karena dalam satu molekul air terdapat 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen, maka secara kasar ruang kosong pada sebuah molekul air (hanya dari sumbangan dari atom hidrogen) adalah sebanyak 212.000 kali benda padatnya. Jadi, pada segelas air penuh di atas, ruang kosongnya paling tidak menempati 99.999528%. Sementara benda padatnya hanya 0.000472%!

Jadi, jika hari ini Anda merasakan kesempitan yang luar biasa sehingga Anda memiliki alasan untuk tidak berterima kasih (bersyukur) pada Tuhan, maka Anda adalah ciptaan-Nya yang sangat durhaka. Jika Anda berhenti mencoba alternatif penyelesaian satu masalah hanya karena telah melakukan 10 upaya berbeda, maka Anda sedang menafikan lebih dari 211.990 cara lain yang disediakan Tuhan untuk ditemukan.

Bahkan seorang inventor paling hebat yang pernah dicatat, Thomas Alva Edison, saat menemukan bola lampu hanya menggunakan kurang dari 0.005% peluang yang disediakan-Nya. Bagaimana dengan Anda?

Have a great invention….

From the note of Syarif Niskala

Sederhana dan Cerdas

0
Filed under KUTIPAN
Tagged as , , , , , , , , , , ,
sciencebiotech.net

sciencebiotech.net

PERKENALKAN, namaku adalah Virus 1918, atau orang-orang di Spanyol sana memanggilku La Grippe. Aku bukan hewan, bukan pula tumbuhan, aku virus. Aku dinamai 1918 karena menurut sebagian manusia, nama itu berasal dari tahun kelahiranku yang ditandai dengan punahnya separuh peradaban manusia di Benua Eropa.

Semua orang membenciku, karena aku dianggap sebagai biang keladi terjadinya wabah sampar yang membuat gempar. Namun, sesungguhnya apalah aku. Sebagai virus, aku hanya memiliki dua harta, yaitu selubung membran selaku bajuku sekaligus identitas luarku, dan seuntai asam ribo nukleat atau RNA sebagai identitas asliku, sekaligus prosesor kreatif yang menunjang keberhasilan tujuan hidupku. Dalam dua kata pula aku dapat disimpulkan sebagai sederhana dan cerdas!

Tanpa atribut dan perangkat yang rumit, aku senantiasa berhasil menjalankan misi yang ditugaskan padaku. Bagiku, tidak ada yang sulit karena semua potensi yang kutemui dalam daur hidupku dapat kumanfaatkan secara optimal.

Aku tidak memiliki enzim untuk bereproduksi, tetapi manusia menyediakannya. Aku tidak memiliki mitokondria untuk menghasilkan tenaga, tetapi manusia meminjamkannya. Aku tidak memiliki cukup kaveling untuk membangun rumah tempat bernaung, tetapi manusia juga rela menyiapkannya. Inilah aku, si virus 1918 yang akan selalu ada dan hadir seumur semesta.

Barangsiapa yang tidak bisa memahami dan memaknai dua sifat dasarku, yaitu sederhana dan cerdas, ia akan merasakan akibatnya!

(Disitasi dari buku berjudul Clink Your Life karya Tauhid Nur Azhar oleh Syarif Niskala. Judul aslinya adalah Namaku Virus 1918).

Menghormat Dalam Atas Semua Proses yang Telah Dijalani

0
Filed under INSPIRASI
Tagged as , , , , , , , , , , , ,

“Jika kami memenangi tiga gelar, itu bakal menjadi sebuah sejarah tersendiri. Seandainya kami memenangi dua gelar itu positif. Namun bila kami tidak memenangi apa-apa, itu bukan hal yang memalukan.” Jose Mourinho, pelatih Inter Milan.

Sahabat-sahabat pengunjung yang baik,

Beberapa bulan ini, saya memerhatikan ungkapan-ungkapan para profesional sepak bola. Selain karena menyukai hiburan olah raga tersebut, terlebih karena banyak ungkapan-ungkapannya yang penuh makna manajemen diri dan organisasi. Mungkin karena sepakbola sebagai salah satu cabang olah raga yang paling populer di dunia ini, maka pengelolaan dan sumber daya manusianya sangat menonjol. Terlebih setelah banyak investor melihat peluang bisnis adanya potensi keuntungan yang tumbuh dan berbasis loyalitas ‘customer’ yang liat. Masih ingat dengan milyuner Timur Tengah yang membeli Fulham atau Manchester City? Dengan kekuatan finansialnya, mereka mengubah peta kekuatan klub-klub Premier League di Inggris.

Nah, terkait kutipan saya di Buzz dan di awal tulisan ini, saya melihat ada sikap profesional dari seorang tokoh kontroversial sepak bola dunia, Jose Mourinho, yakni bagaimana menyikapi output (hasil) dari sebuah rangkaian ‘tenaga+pikiran+waktu’. Jose sangat memahami bahwa hasil bukanlah satu-satunya alasan untuk bersikap hormat pada diri sendiri. Jika atas kualitas apa pun hasil kompetisi, Jose tetap bersikap positif, seharusnya ada alasan (motif) lain yang lebih permanen atau paling tidak kuat mendominasi benak dia. Apakah itu? Menghormat dalam atas semua proses yang telah dijalani.

Apakah demikian?

Tentu saja belum tentu, karena saya tidak mendapatkan jawaban langsung dari Mr. Jose Mourinho. Namun dalam benak saya, sikap seorang Jose bisa saja dilatar belakangi oleh cara dia bekerja yang memang banyak dipuji media massa olah raga dunia. Jose dikenal sangat detil, disiplin, tegas, penuh persiapan, pekerja keras, dan bangga dengan apa yang dilakukannya. Jadi, memang sangat mungkin dia meletakkan hormat yang dalam pada segenap upaya dia dan tim untuk setiap laga yang akan dilalui. Untuk itulah, dia merasa harus berungkap seperti kutipan di awal tulisan ini.

So, sudahkah kita menghormati dengan dalam atas semua proses yang telah dijalani?

Salam Semangat,

Have a nice weekend

Syarif Niskala